Gadis Teh Hangat Part II

0

Hari ini aku sengaja melapangkan semua daftar panjang pekerjaanku yang sangat padat ini demi, Dia! Oh ayo lah email singkat itu benar-benar membuatku terjaga semalam penuh. 5 menit aku rela datang lebih cepat dan luar biasanya lagi dia telah duduk manis di bangku yang telah ia pesan sebelumnya.

“Maaf udah lama ya?”
“Haha.. Enggak lah, silakan duduk”
“Gimana kabarmu? Baik?”
“Baik, kamu?”
“Sama, pengobatanya lancar?”
Dia mengganguk mengiyakan, pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke basis basa basi terus kami lontarkan satu sama lain, ya cukup menyenangkan buatku, ketimbang harus menatapnya dari kejauhan dengan curi curi pandang bukan?

Setengah jam lebih kami saling bertukar cerita, waktu pun terasa dua kali lebih cepat, membuat hati sesak mengingat waktu bersama tinggal sedikit, kutatap raut wajahnya lamat lamat cerah namun tetap menampakan semburat pucat yang berarti saat ini dia tak sehat..

“Kamu masih sakit?”
“Ah, tidak kok, oh iya mau temenin aku ke dermaga yang ada di sudut kota ini gak nanti malam?” ucapnya dengan raut berseri-seri
“Dermaga? Di sana dingin kalau malam, nanti kamu sakit lagi”

Dia diam sesaat, raut wajah bahagianya seketika berubah serius

“Ya sekali aja, ayo dong aku mohon dokter…”
Giliran aku yang diam, kutatap mukanya lamat-lamat “kamu udah sehat 100 persen belum?”
“Sudah dong buktinya aku udah di sini kan?” ucapnya mengangkat kedua jempol dengan senyum mengembang.
Aku mengangguk mengiyakan “oke, jam 7 kita pergi sekarang kamu pulang dulu ya, istirahat”
Dia balas mengangguk “oke, sekarang dokter pulang juga, aku pasti istirahat kok…”

Kami pun berpisah, berat? Pasti iya sekalipun aku tetap sadar diri, belum tentu kan dia suka padaku, namun aku tetap heran saja kenapa pasien dengan sakit parah itu bisa berkeliaran hanya dengan dua minggu masa pengobatan.

Pukul 7 malam, si gadis teh hangat bilang aku tak perlu menghampirinya di rumah, aku hanya perlu menunggunya di dermaga, di sebuah bangku mungil yang menjadi tempat pilihanya menghabiskan malam nanti…

30 menit lamanya aku menunggu sosoknya masih belum kelihatan juga, Perasaan cemas mulai menghampiri hati membuat hati kian was was dan cemas, namun semua itu tak bertahan lama…

“Halo si dokter cinta, sudah lama menunggu gadis teh hangat ini?”
Suaranya terdengar bersemangat.
“Ini aku bawa kopi buatmu, di sini dingin…” dia melanjutkan sembari menyodorkan secangkir kopi ke arahku.
“Kamu gak minum?” kuterima kopi pemberinya dengan setengah hati
“Gak aku gak minum kopi..”

Pembicaraan berakhir di situ, ia duduk di sebelahku merapatkan sedikit tubuhnya, menyandarkan kepalanya ke pundakku dengan mata terpejam..

“Kamu tau, kenapa aku mau ke sini?”
“Kenapa?”
“Dulu sewaktu mama masih ada, kita sering ke sini ngehabisin waktu sama-sama, tapi sekarang udah beda mama udah gak ada..”

Aku memilih tetap diam, tanganku memegang erat pundaknya merapatkan tubuhnya denganku “Hey.. Sekarang kamu udah punya teman buat ke sini kan?”
“Iya.. Tapi semuanya udah terlambat, aku gak akan mungkin bisa bertahaan..”
“Hey! Apa maksudmu kamu pasti bisa bertahaan kok..”
Dia diam sesaat “Andai itu bisa terjadi ya…”
“Kamu bicara apa sih?”
“Aku mau tidur di pundakmu boleh kan? Aku ngantuk banget”
“Eh di sini dingin, mending kuantar pulang ya!”

Dia diam, matanya tetap terlelap dengan damai “Hey? Salwa kamu dengar gak? Salwa?”

Aku mulai dilanda perasaan cemas, melihat tanda-tanda dirinya yang nampak kian melemah, kutekan nomor rumah sakit tempat diriku bertugas dengan segera. Tuhan, bolehkah dia tetap bersamaku di sini?

“Jantungnya semakin lemah dok?”
“Terus pantau jangan samapai salah!”
“Baik!”
“Suster segera beritahu keluarganya, tentang kondisi pasien!”
“Siap dok…”

Salah seorang suster segera berlalu keluar, suasana kian menegang ditambah dengan monitor jantung yang menunjukan tekanan jantungnya kian melemah, aku benar benar takut saat ini, semua persendianku seketika melemah ketika bunyi nyaring itu melanda…

‘Tittttttttttttttt….’

Pandangan mataku terpaku ke monitor jantung sesaat, tubuhku benar benar lemas saat itu, aku benar benar merasa kehilangan, apa itu tambatan hati…

“Ya halo, ada apa ya?”
“Kami dari Rumah sakit Bakti Bersama, memberitahukan bahwa kondisi anak bapak sekarang sedang kritis, kami mohon kepada bapak untuk segera ke rumah sakit, sekarang”
“APA? Baik saya segera dan secepatnya ke sana”
Sambungan telepon terputus seketika, si bapak nampak gusar, wajahnya pucat pasi saat itu juga…

“Hara!” Ia berteriak kencang memangil seseorang
“Iya pa ada apa?”
“Cepat, kita harus ke rumah sakit sekarang…”
Hara menganguk, ia segera mengikuti langak ayahnya yang nampak terburu, ia yakin kejadian ini akan jadi yang terakhir kalinya…

“Bagai mana keadaan putri saya dok?” Bapak itu nampak sangat cemas, melihatku keluar dari ruangan dengan raut muka sedih..
“Pak kami..” bibirku keluh, ini kali pertamanya lidahku, otakku semua membeku untuk sekedar mengucapkan kata itu… “kami sudah ber..”
Setetes air mata muali menerobos keluar dari kedua mataku, memaksaku menampakan ke reapuhan hatiku, aku pria, tapi rasa sakit ini, membuatku tak bisa berkata, air mata ini bukti… Bukti bahawa saat ini aku benar benar hancur…
“Berusaha men…” Ucapanku terhenti ketika sang bapak langsung memeluku, tanpa menunggu kata-kata yang ingin kulanjutkan, ia memeluku erat menangis tertahan dan mulai berucap…
“Trimakasih nak, kau buat hari terakhir putriku indah…”

Pemakaman berlangsung lancar, hanya saja sang awan kelabu terus menerus meneteskan tangisnya ke bumi, membuatku semakin tengelam dalam kelamnya hati…

Sang bapak menepuk pundakku, aku menoleh dan dia tersenyum…
“Nak.. Ikhklaskan dia ya, dia akan lebih bahagia di sana jika kamu bisa menghapus murungmu itu”
Aku menganguk “baik pak saya akan mencoba”

Sang bapak menepuk pundakku lagi, berdiri dan berlalu menuju jalan keluar tempat pemakaman ini. Dan aku masih di sini, diam, mematung, membisu dengan luka sembilu, entah kapan rasa sakit ini bisa terobati, apa kah besok? Lusa? Bulan depan? Tahun depan? Atau pun Puluhan tahun lagi?

Cerpen Karangan: Ade Putri
Facebook: Ade Putri

Cerita Gadis Teh Hangat (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Ade Putri, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here