PANTAI LAMTEUNGOH, DESTINASI WISATA ISLAMI BEBAS MAKSIAT YANG MENJAJIKAN

0
Kra
Kra

Acehraya.com.Banda Aceh-PANTAI LAMTEUNGOH, DESTINASI WISATA ISLAMI BEBAS MAKSIAT YANG MENJANJIKAN

Selama ini, pantai-pantai yang sering dijadikan singgahan wisatawan domestik, nasional maupun internasional di sekitar Banda Aceh, Provinsi Aceh antara lain Pantai Lampuuk, Pantai Lhoknga, Pantai Ulee Lheu, Pantai Ujoeng Batee, dan Pantai Ladong. Namun tahukah anda, terdapat saat ini terdapat Pantai Lamteungoh yang mulai menggeliat menjadi pusat destinasi baru di sekitar Banda Aceh.

Dulu, ketika tsunami 2004, Pantai Lamteungoh juga terkena tsunami, hampir sama dengan pantai-pantai lain di Aceh. Kini, pasca pemulihan, pantai tersebut berdiri indah, bahkan dikatakan lebih indah dibandingkan dengan sebelumnya.

Bagaimana menuju ke Pantai Lamteungoh

Pantai Lamteungoh terletak di Kecamatan Peukan Bada Aceh Besar. Ada beberapa jalan alternatif menuju ke sana, tetapi yang lebih mudah adalah melalui jalan menuju Ulee Lheu. Tiba di depan Masjid Ulee Lheu anda belok kiri, kalau belok kanan akan menuju ke Pelabuhan Kapal Penyeberangan menuju Sabang.
Setelah sudah mengarah ke arah kiri, anda akan bertemu dengan sebuah jalan belok kanan, pas setelah Restauran Banda Seafood. Dari jalan ke arah kanan tersebut, anda lurus, kira-kira 2KM jaraknya. Dan di sana anda akan bertemu dengan penunjuk jalan menuju pantai Wisata Islami.
Anda juga dapat bertanya ke banyak orang di sepanjang Ulee Lheu, hingga sepajang jalan belok kanan ke Pantai Lamteungoh tersebut. Sebab, tidak ada masyarakat di sekitar yang tidak tahu tempat itu.

Panorama Pulau Kecil

Jika anda singgah di Pantai Lamteungoh, maka anda akan disuguhi pemandangan menarik, pulau kecil cantik yang tidak berapa jauh dari Pantai.

Laut hijau dan hamparan pasir yang luas
Laut hijau, bahkan sangat terasa hijau jika pas cuaca cerah menjadikan salah satu keistimewaan lain dari Pantai ini. Jika anda berpikir bahwa hamparan pasir di pantai ini adalah kecil. Itu salah besar, sebab pantai disini mempunyai lebar pantai rata-rata dari air laut jika surut ke pepohonan aru, cemara sekitar 300 meter lebarnya.

Pepohonan yang indah dan sunset

Selain itu, untuk kenyamanan dan memberi hawa sejuk kepada pengunjung pantai, maka pepohonan yang tertata rapi dapat anda gunakan sebagai tempat istirahat keluarga. Bahkan, saat ini, terutama hati Sabtu dan Minggu banyak keluarga membentangkan tikar meuramien (makan bersama) di bawah pepohonan.

Anda jangan kuatir tidak dapat melihat matahari terbenam (sunset), di sini adalah salag satu tempat yang paling indah mengabadikan sunset yang turun perlahan di ujung ujung Pancu.

Kearifan laut yang di jaga dan Pukat Darat
Di sekitar pantai Lamteungoh, tidak ditemukan boat-boat nelayan besat melakukan penangkapan ikan. Wilayah ini termasuk dalam wilayah kelola adat laot. Penjagaanya diserahkan kepada Panglima Laot (ketua nelayan) setempat.

Jika beruntung, sesekali anda langsung dapat menyaksikan cara nelayan tradisional menangkap ikan dengan Pukat Darat. Dan tentu, bagi anda yang lebetulan suka kepada ikan-ikan yang segar, maka ikan-ikan nelayan tersebut dapat di beli ditempat dengan harga yang sangat terjangkau.

Terkadang anda juga dapat menyaksikan langsung beberapa nelayan yang sedang mencari kepiting laut dengan menggunakan perangkap seadanya.

Wisata Islami, Anti Maksiat

Memang Aceh diseluruh tempat wisata menghendaki adanya label wisata islami, namun kenyataannya tidak semua tempat terjaga atau bebas dari maksiat. Sehingga, jika anda suatu kali hendak ke pantai tertentu dan memawa keluarga disana, termasuk anak-anak. Maka jangan heran jika bertemu dengan banyak maksiat, menyebabkan kita malu kepada anak-anak.

Pantai Lamteungoh, karena tergolong baru, masyarakat telah berkomitmen untuk menjaga bersama supaya pantai ini betul-betul menjadi destinasi wisata islami, terutama bagi keluarga.

Walaubagaimanapun, sejauh ini, Pantai Lamteungoh belum begitu tertata, ini tidak lain, karena kurangnya perhatian pemerintah, terutama institusi terkait dengan wisata.

Penulis.  :  Dr.Teuku Muttaqin Mansur, ( Direktur Geuthèë Institute)

Editor      : Irsyadi

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here